Rabu, 04 Juni 2008

AKU, APA ADANYA…

(Mei 2008)


Bulan ini, bulan dimana aku dilahirkan. Bulan yang entah kenapa rasanya spesial, bulan yang sangat aku harapkan banyak terjadi hal-hal yang menyenangkan di dalamnya


Menurut ilmu psikologi, orang (sebagian besar) memang menaruh perhatian khusus pada hari kelahirannya, merasa hari itu hari spesial, sehingga senang sekali jika ada orang lain yang mengingat hari ulang tahunnya. Happy Birthday


Tapi, dalam Islam tidak diajarkan untuk menjadikan hari atau tanggal kelahiran sebagai sesuatu yang spesial. Karena, Nabi Muhammad SAW tidak pernah merayakan ulang tahun atau memperingatinya dengan acara khusus, misalnya dengan mengadakan pengajian khusus atau memberi makan orang miskin pada hari kelahiran beliau. Semua biasa saja. Istiqomah dalam rutinitas ibadah yang setiap harinya beliau lakukan.


Usia yang bertambah, berarti jatah hidup kita makin sedikit. Kematian semakin dekat. Semua orang waras tahu itu. Saking tahunya dan merasa sudah bosan diingatkan, merasa hal itu tidak penting lagi untuk dipikirkan secara mendalam. Maksiat terus dilakukan. Tidak melakukan perubahan berarti dalam hidup. Diri menjadi semakin bebal saja.



Heran dan prihatin sekali saya dengan orang-orang ”intelektual”, yang dihormati secara duniawi karena kedudukannya atau karena titel panjang yang mengiringi tulisan namanya, tapi bebalnya luar biasa. Pembangkangannya terhadap perintah Tuhan luar biasa. Dia pikir dia akan hidup selamanyakah? Mencari-cari seribu satu argumentasi untuk melegalkan perbuatannya yang dari sisi agama jelas-jelas salah!
Tapi, bukan hanya orang intelektual saja loh, kebanyakan manusia sekarang sangat bebal (semoga Allah terus memberikan aku hidayah, amin). Misalnya saja, sudah jelas-jelas bunga bank haram, sudah keluar fatwa MUI pula, tetap saja mereka menabung dan menggunakan jasa bank konvensional. Merokok, yang kini para jumhur ulama menyatakan keharamannya, tetap saja orang merokok. Mencari-cari dalih yang membenarkan perbuatan mereka. Wal iyadzubillah!


Eeeh..saya kok jadi ngelantur kesana-kemari yak, hehehh..:p
Bulan ini, bulan yang harus diliputi semangat untuk meneruskan visi-misi saya. Berubah menjadi lebih baik dari hari kemarin. Ngomong-ngomong soal perubahan, aku juga ternyata sudah agak berubah, ada deh sedikti perubahan yang terjadi...beberapa akan saya sebutkan:
1. Sekarang organisasiku nambah satu lagi, yaitu FORMAZI (Forum Mahasiswa Gizi)
2. Temen-temenku sudah nambah lagi dikit...
3. Udah mulai ikut kompetisi ilmiah, walaupun belum ada yang menang :P
4. .........


Udah ahh.basi banget sih infonya!! Maaf ya friennds, aku memang orangnya agak tertutup, rada-rada malu untuk mengumbar semua kejelekan atau jati diri gua,,,ntar ada yang naksir, jatuh cinta, kagum atau sebaliknya, ada yang anggap gua over narsis atau pembual, kan gawat:p Hihiii becanda ding!

JENUH

Akhir-akhir ini aku jadi banyak merenung juga, ternyata banyak sekali hal yang harus aku benahi dalam kehidupanku. Terutama sekali masalah manajemen waktu. Saya selama ini sangat sering melakukan kesalahan dan mengalami berbagai kerugian hanya dikarenakan bad management of time. Sangat menyesakkan. Dan saat detik tulisan ini saya buat, saya pun masih dalam proses untuk bisa disiplin dalam mengerjakan berbagai targetan yang sudah saya buat (selama ini terkadang targetan itu hanya ditulis di kertas, dipajang, dan tidak terlaksana sampai masa tenggatnya lewat, jadilah saya menyesali diri dikemudian hari).



Terkadang merasa sangat jenuh dengan rutinitas. Ingin bersantai sejenak, tapi yang menjadi masalah jika bersantai di saat yang tidak tepat. Kebiasaan menunda-nunda pekerjaan, tidak disiplin, cepat merasa lelah (padahal belum berbuat masksimal) adalah sikap-sikap yang harus segera dibenahi. Bangkit dari keterlenaan, nanti dulu deh nyantainya, maksudnya ya lihat sikonlah...kalau udah mau ujian, ya lebih fokus sama ujian. Kalau banyak tugas, begadang itu perlu tapi dengan tetap menjaga kesehatan, usahakan makan bergizi, hindari stres, nikmati aja. Itu semua harus dilakukan. Kerja keras akan menuai keberhasilan dan kenyamanan di kemudian hari. Jika malas, membuang-buang waktu, tidak produktif, bisa menyesal di kemudian hari. Malah sengsara berkepanjangan nanti.



Yo wis, semoga mulai besok bisa mengawali hari dengan taubat lagi atas segala kekhilafan pada Allah SWT, membenahi kehidupanku, tersenyum, dan bersemangat menjalani hidup. Semoga hidupku bisa bermanfaat, diridhoi oleh-Nya, dan wafat khusnul khotimah, amin (ingat, aku juga harus membayar kewajiban ini itu dan mengembalikan pinjaman lainnya).

Ditulis 30 Mei 2008 (23:47 WITA)

Get married?

Tanggal 4 April 2008 kemarin, akhirnya aku bisa hang out lagi with my mom. Dari sore sampai lewat jam 9 malam kami keluyuran ke mall. Bukan tanpa tujuan atau cuma sekadar cuci mata nggak karuan, kami pergi buat nyariin kado pernikahan seorang kerabat, ya sekalian aja ke Gramedia, Carefour, dan lainnya. Cukup menyenangkan malam itu karena beberapa pekan belakangan ini, saya cukup sibuk (stres alias jenuh) dengan segala rutinitas dan penyelesaian target-target yang cukup menyita waktu.


Malam itu, tanpa sengaja saya melihat ada ikhwan yang pake celana cungkring alias di atas mata kaki (istilah agamanya, celana yang tidak isbal, yaitu celana yang panjangnya tidak melewati mata kaki) jalan di mall menggandeng seorang wanita. Seperti biasa, aku menundukkan pandangan (ghodhdhul bashor), agar tak bertatapan langsung dengan ikhwan itu, jadi aku hanya melihat kakinya saja. Namun, entah kenapa, saya penasaran ingin melihat celana pria itu lagi, apakah tidak salah pria dengan pakaian seperti itu jalan di mall? (tidak berdosa memang, tapi jarang aja…dan cuma ingin memastikan aja, entah kenapa pula aku suka penasaran..). jadi, saat pria dan wanita gandengannya itu berlalu, aku memutuskan untuk menoleh, rencananya mau melihat ikhwan itu dari belakang, tapi tahukah kau apa yang terjadi? Wanita gandengannya itu menoleh padaku….Masya Allah, dia adalah teman satu bimbingan belajarku dulu saat persiapan SPMB. Setelah bertahun-tahun tak berjumpa, setelah sempat dulu berhubungan lewat surat dan handphone (tapi terputus karena satu dan lain hal), akhirnya Allah mempertemukan kami kembali. Cukup kaget juga, tapi senang tentunya berjumpa lagi dengannya. Ternyata ikhwan yang aku lihat tadi adalah suaminya. Kami pun bertukaran nomor telepon seluler. Pertemuan yang singkat, karena kami berdua buru-buru, insya Allah bisa janjian ketemuan lagi dan terus merajut silaturahmi lagi setelah ini.


Temanku itu adalah wanita shaliha dan sepertinya mendapatkan suami yang sholeh juga. Saya turut bahagia. Ya, dia sudah duluan menikah daripada saya. Nikah muda saat masih kuliah. Entah dengan suaminya beda berapa tahun, tapi sepertinya tidak terlalu jauh sekali rentang umur mereka.


Menikah…well, setiap manusia normal pada umumnya pasti merencanakan menikah, apalagi dengan orang yang dicintai, tentu menyenangkan. Berharap akan mempunyai keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Baiti jannati, rumahku surgaku. Pria mengharapkan mendapat istri sholiha, sebab wanita sholiha adalah sebaik-baik perhiasan dunia, begitu sabda Nabi SAW. Wanita sholiha dapat menjadi ibu yang baik yang akan membesarkan anak-anaknya kelak dengan nilai-nilai ketakwaan, dapat menjadi penyejuk hati bagi suami dan anak-anak, insya Allah. Perempuan pun mengharapkan mendapatkan pria sholih. Yang mengerti dan menjalankan perintah agama dengan taat, yang bisa menjadi ‘imam’ dalam keluarga.


Namun jodoh adalah misteri. Kecantikan atau ketampanan seseorang tidak dapat dijadikan jaminan bahwa ia pun akan mendapatkan jodoh yang setara. Banyak orang yang mempunyai impian menikah dengan tipe bla bla bla...tapi ternyata jodohnya tidak seperti itu. Ada yang berniat ingin menikah di usia sekian tahun, tapi sampai ajal menjemput di usia senja, jodoh itu belum juga datang.


Saya sendiri dulu juga pernah punya target macam-macam, tapi itu dulu waktu masih belum dewasa (jadi sekarang sudah dewasa nih?). Sekarang agak lebih realistis. Masih tetap punya standar, tapi masih dalam tahap wajar dan masuk akal. Untuk masalah beginian, saya paling sering curhat sama mama, biar sekalian minta didoakan agar dapat jodoh yang terbaik dan dimudahkan urusannya oleh Allah plus dapat jodohnya dengan cara yang syar’i alias tidak lewat maksiat dulu (misalnya lewat pacaran). Kapan menikahnya, saya serahkan pada Allah saja. Allah yang Maha Tahu kapan waktu yang tepat bagi saya untuk mulai membina rumah tangga. Yang jelas, pintu rumah saya selalu terbuka untuk pria-pria yang berani melamar, Cuma urusan diterima atau tidak, saya tidak bisa menjamin. Banyak pertimbangan nantinya. Saya sendiri saat ini tidak menargetkan harus menikah setelah selesai kuliah atau kapan. Karena saya perempuan, saya kan tidak wajib punya pekerjaan. Jika ada yang rela punya istri masih kuliah ya silakan saja, hehe...


Ah, tulisan di atas hanya sekadar imajinasi saja, tidak berniat mempromosikan diri saya seperti di biro-biro jodoh. Saya yakin jodoh itu sudah ada, hanya saja saja belum dipertemukan saat ini, belum datang masa itu bagi saya. Di saat-saat penantian ini, saya lebih fokus melihat ’siapakah dan bagaimanakah’ diri saya ini? Apakah diri ini memenuhi kualifikasi istri yang baik? Oleh karena itu, saya harus lebih banyak lagi membenahi diri dan melakukan banyak hal sebelum saat itu datang, insya Allah. Wallahu a’lam bis showab.

PAPAKU SAYANG

Jumat, 9 Mei 2008, papa dioperasi di rumah sakit Pelamonia (di jalan Jend. Sudirman, Makassar). Papa punya penyakit asam urat yang parah banget, jadi di kakinya ada benjolan asam urat yang menyebabkan beliau beberapa tahun ini tidak bisa memakai sepatu. Tidak sakit sebenarnya, namun kurang nyaman saja. Jadi, hari itu papa memutuskan ingin operasi. Mamah, dan akang sebenarnya nggak setuju, merepotkan saja dan malah ribet mungkin sakitnya pasca operasi. Tapi papa tetap keukeuh, tetap ngotot mau di operasi.


Jadilah malam sabtu itu, saya dan mama nginep di rumah sakit. Papa sempat ngigau gitu, agak kurang kesadarannya pasca operasi. Sempat muntah juga. Belum mau makan berat.


Besoknya, sabtu pagi papa udah bisa pulang. Namun yang membuat sedih, sampai detik saya nulis ini, papa masih belum bisa makan nasi plus lauk pauk maupun sayuran. Paling makan buah sedikit dan minum vitamin. Tapi jelas saja membuat kami khawatir. Sekarang sudah tanggal 31 Mei 2008. hampir sebulan loh! Mama kadang suka nanya, sampai kapan sih papa nggak mau makan nasi? Samapai kapan kayak gini, masih belum tahu. Saya juga heran, yang dioperasi kaki, tapi perut papa katanya yang nggak enak jadi belum mau makan berat. Papa hanya makan bubur. Itu juga syukur-syukur kalo dihabisin. Tampaknya selesai ujian aku harus lebih fokus lagi merhatiin papa dan nyariin makanan atau suplemen yang lebih tepat untuk menjaga kesehatan papa yang entah sampai kapan akan kayak gini. Sekalian nyari-nyari penyebab papa kayak gini dan semoga dapat solusi agar papa bisa sehat lagi kayak dulu, bisa ngantarin aku ke kampus atau ke rumah temen lagi, amin. Mohon doanya.

Antivirus Merah Jambu

Entah sejak kapan tepatnya, tapi akhir-akhir ini disaat saya melakukan flashback terhadap perkembangan diri ini, saya mendapat satu kesimpulan penting diantara beberapa catatan penting dalam kehidupan saya. Saya sudah berubah, agak aneh dibanding remaja seusia saya. Di saat remaja lain sedang jatuh cinta, di saat remaja lain freaks banget dengan novel-novel roman, film-film dan lagu bertemakan cinta, saya merasakan hal yang sebaliknya.


Tidak. Saya tidak lesbian atau tidak nafsu lagi dengan pria. Saya hanya sudah sulit lagi untuk jatuh cinta (lagi?). Saya merasa tidak tertarik untuk menjalin hubungan cinta lewat pacaran atau hubungan spesial tanpa stasus sekalipun dengan pria manapun. Menurut saya, itu hanya membuang-buang waktu saja, menambah dosa, dan risikonya bisa patah hati yang sangat menyakitkan bila putus cinta. Saat ini rasanya ada antivirus cinta yang ter-instal di solar plexus-ku (di bagian hati ini). Baguslah, artinya saya bisa menjalankan misiku untuk mencari jodoh tanpa pacaran. Mungkin ada yang bertanya, bagaimana caranya? Ah, saya yakin pertolongan Allah. Saya juga kan tidak menutup diri dari hadirnya lelaki dalam kehidupan saya. Hanya saja agak menjaga jarak, berhati-hati tepatnya. Berhati-hati dari godaan setan yang bujukannya terkadang sangat melenakkan, membuat manusia mabuk dan lupa akan eksistensinya sebagai hamba Allah yang harus menjauhi maksiat dengan segala macam bentuknya. Saya pun hingga detik ini masih saja merasa banyak dosa meski berusaha menjadi manusia bertakwa, tapi seringkali terkalahkan oleh nafsu dan godaan setan.


Tapi sekarang saya jadi lebih sayang sama teman-teman. Entah kenapa, dibandingkan waktu masih SMA, sejak kuliah sampai sekarang, saya sangat menghargai sekali sebuah pertemanan atau persahabatan. Mulai dari teman-teman IPB tercinta yang masih sering aku rindukan hingga kini, teman-teman di kampusku sekarang, di Unhas, yang selalu mengisi suka-duka kuliah di Makassar, sampai teman-teman lama di Kendari. Saya juga menjalin relasi baru lewat internet, berkenalan dengan orang-orang yang cukup memberi warna dalam hidup ini, menjadi inspirasi, dan saling berbagi informasi. Lewat internet pula, saya bisa terus merajut ukhuwah dengan teman-teman. Itu lebih indah dan nyaman. Saya merasa itu sudah cukup. Tak perlu ada pacaran. Tak perlu dulu menyerahkan segala cinta di hati ini pada orang yang belum tentu dia adalah jodoh saya. Saya hanya merasa bahagia dengan indahnya persahabatan, ketulusan berbagi tanpa tendensi apapun. Keikhlasan dan senyum dalam menjalin hunbungan dengan orang lain didasari kasih sayang sebagai sesama hamba Allah.


Kawan, bila aku melakukan kesalahan, maafkan aku, aku hanyalah manusia biasa yang lemah (dhoif) dan banyak kekurangan. Aku berharap di sisa umur ini aku bisa menjadi manusia yang punya manfaat bagi orang lain dan diridhoi Allah, amin. Wallahu a’lam bis showab.

Kamis, 15 Mei 2008

JADILAH DIRIMU!!!

Sejak kecil, kita sudah sering ditanyai tentang cita-cita. Ya, cita-cita. Mengapa? Karena dengan cita-cita, dengan mempunyai impian, kita menjadi bersemangat dalam menjalani kehidupan, kita menjadi tahu apa tujuan kita belajar. Namun, seiring waktu, cita-cita terkadang suka berganti-ganti. Saat SD, ingin menjadi dokter; saat SMP ingin menjadi guru; saat SMA ingin menjadi ilmuwan; saat kuliah, ingin menjadi dosen. Namun akhhirnya, tidak jarang yang memiliki profesi yang sangat jauh dengan cita-citanya. Ada yang pekerjaannya jauh lebih baik dibanding cita-citanya, namun tidak sedikit juga yang sebaliknya.
Untuk apa kita mempunyai cita-cita? Agar mempunyai tujuan hidup yang jelas. Agar tahu jalan mana yang harus ditempuh. Kemana harus melangkah. Kata Thomas Carlyle, “Seseorang dengan tujuan yang jelas akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Seseorang yang tanpa tujuan, tidak akan membuat kemajuan walaupun ia berada di jalan yang mulus.”
Kita juga bisa memetik hikmah dari novel tetralogi Laskar Pelangi, dimana tokoh-tokohnya, yaitu Arai dan Ikal, mempunyai mimpi, yang akhirnya menjadi pelecut dalam kehidupan mereka untuk mewujudkan mimpi itu. Dan akhirnya, mimpi itu terwujud! Mimpi yang secara realistis sangat mustahil untuk diwujudkan oleh orang-orang dengan latar belakang seperti mereka! Kita dapat ikut merasakan kuatnya kekuatan mimpi mereka, seperti yang diceritakan dalam Sang Pemimpi (Hirata,
2006: 272) sebagai berikut:
Hari ini seluruh ilmu umat manusia menjadi setitik air di atas samudera pengetahuan Allah. Hari ini Nabi Musa membelah Laut Merah dengan tongkatnya, dan miliaran bintang-gemintang yang berputar dengan eksentrik yang bersilangan, membentuk lingkaran episiklus yang mengelilingi miliaran siklus yang lebih besar, berlapis-lapis tak terhingga di luar jangkauan akal manusia. Semuanya tertata rapi dalam protokol jagad raya yang diatur tangan Allah. Sedikit saja satu dari miliaran episiklus itu keluar dari orbitnya, maka dalam hitingan detik semesta alam akan meledak menjadi remah-remah. Hanya itu kalimat yang menggambarkan bagaimana sempurnanya Tuhan telah mengatur potongan-potongan mozaik hidupku dan Arai, demikian indahnya Tuhan bertahun-tahun telah memeluk mimpi-mimpi kami, telah menyimak harapan-harapan sepi dalam hati kami…

Jadi, bermimpilah saudaraku dan berjuanglah untuk mimpi itu! Kita memang bukan Andrea Hirata, kita memang bukan Arai, kita bukan Einstein, kita adalah diri kita sendiri! Kita punya mimpi kita sendiri! Jangan hanya melamun, tapi bertindaklah!
Setiap manusia dilahirkan dengan takdirnya sendiri. Kita punya kelebihan dan kekurangan, kita berbeda dari orang lain. Maka, galilah potensi dalam dirimu! Temukan dia! Jangan biarkan dia hanya terpendam. Itulah sebabnya Allah melarang kita mempunyai sifat iri, tidak senang melihat orang bahagia, tidak senang melihat kelebihan orang lain,dan berbagai penyakit hati lainnya. Karena saudaraku, semua itu hanya akan menghancurkan dirimu! Mengapa menghabiskan waktu, pikiran, dan perasaan dengan membenci orang lain? Bisa-bisa penyakit fisik pun bermunculan. Seharusnyalah kita turut bahagia jika ada saudara kita berhasil, jika mereka memeroleh kebaikan-kebaikan dari Allah. Harusnya kita belajar dari orang-orang sukses, belajar dari kegigihan mereka, dan menerapkannya pada diri kita.
Menjadi diri sendiri artinya melihat potensi diri sendiri. Apa yang paling baik untuk kita berdasarkan potensi yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Jika di masa lalu kita banyak berbuat kesalahan, banyak waktu yang sia-sia, marilah sekarang kita memulai lembaran baru. Mengumpulkan spirit baru. Dengan memohon bimbingan dari Allah, tapakilah kehidupan ini dengan senyum, bermimpi, dan bertindaklah!
Tapi Saudaraku, terkadang kita bingung, jalan manakah yang harus ditempuh. Apakah sekarang aku salah jalan?
Saudaraku, aku juga masih dalam tahap pencarian jati diri itu. Saranku, banyak-banyaklah memohon petunjuk pada Allah. Aku ingin hidupku ini bermakna bagi orang lain. Aku ingin hidupku diberkahi Allah. Saudaraku, kita lahir bukan karena kebetulan! Kita lahir dengan izin Allah. Kita lahir sebagai hamba Allah, kita lahir sebagai manusia. Sadarkah kau betapa besarnya tanggung jawabmu? Di dunia maupun di akhirat? Tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Nya. Itu prinsip dasar! Jadi, jadikanlah segala aktivitasmu sebagai ladang amal di sisi-Nya. Bersekolah, kuliah, ikut kursus atau pelatihan dan sebagainya, niatkan untuk belajar, mencari ilmu, semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Mungkin dengan ilmu ini suatu saat kita bisa membantu orang lain, mungkin ilmu yang kita pelajari saat ini bisa kita ajarkan pada orang lain sehingga bisa menjadi amal jariyah yang pahalanya tidak pernah putus selama ilmu itu masih dimanfaatkan orang lain. Janganlah menjadi seperti budak-budak setan yang kuliah hanya untuk mencari gelar sehingga nmereka menghalalkan segala cara. Mereka menyogok, menyontek, membeli gelar, dan segala kebobrokan lainya. Janganlah menjadi seperti mereka yang menyia-nyiakan hidupnya dalam kenistaan, bergelimang maksiat; sex bebas, narkoba, melalaikan ibadah, dan terus mengejar dunia hingga lupa Tuhan, seakan-akan mereka akan hidup selamanya, mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya saja yang ada di kepala mereka. Terlalu sibuk, bahkan untuk sholat lima waktu pun dianggap buang-buang waktu. Sedih. Miris hati ini melihat saudaraku seperti itu. Lupakah mereka akan hari akhir? Betapa sia-sia hidup mereka, karena sesungguhnya mereka meniupu diri mereka sendiri! Marilah saudaraku, mulai hidup baru yang lebih baik.
Jika hari ini, engkau merasa jenuh, maka ingatlah, banyak yang harus kau kerjakan. “Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya, serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’ ”(At Taubah: 105)

Tentang saya

Citra Meidita, anak bungsu dari tiga bersaudara, dilahirkan di Kendari, Sulawesi Tenggara, pada tengah malam bulan Ramadhan, 6 Mei 1987. Mempunyai dua kakak lelaki yang telah bekerja, Benny Setiawan dan Paris Sutarjawinata. Saat ini penulis sedang kuliah di Universitas Hasanuddin, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Program Studi Ilmu Gizi – setelah di tahun 2005 sempat menempuh kuliah di Institut Pertanian Bogor (tahun 2006 penulis memilih hengkang dari IPB dan melanjutkan kuliah di Makassar). Penulis yang berdarah Sunda, Jawa, dan Sulawesi, kini tinggal bersama orang tua di kota Makassar.
Di situs ini, penulis ingin berbagi tentang berbagai hal; tentang opini/pemikiran-pemikiran penulis, tentang berbagai ‘pelajaran’ yang penulis anggap penting untuk diketahui, dan berbagai topik lain yang disukai penulis. Penulis berharap, situs ini bisa menjadi ajang berbagi ilmu, saling bertukar pikiran, tempat mencari masukan dari pembaca, dan yang lainnya. Oleh karena itu, masukan dari pembaca sangat penulis harapkan, demi perbaikan yang akan penulis lakukan. Bagi yang ingin mengenal penulis lebih jauh, silakan mengunjungi penulis lewat Friendster, dengan alamat e-mail: citra.meidita@gmail.com.
Penulis sangat suka membaca, demi mencari pengetahuan, pengalaman dari orang lain, dan refreshing dari rutinitas tentunya. Penulis senang membaca buku-buku agama (utamanya karangan ulama salaf), buku-buku berbau psikologi, kesehatan, biografi, teknologi (walaupun suka nggak ngerti), dan bacaan lainnya yang penulis anggap penting untuk menambah wawasan. Terkadang membaca novel (suka dengan novel yang membangun dan memberikan pencerahan).